fbpx
Search
Close this search box.

Cara Fresh Graduate Masuk Politik: Banyak Uang dan Jadi Keluarga Presiden

Facebook
Twitter
LinkedIn
Telegram
WhatsApp
Wisudawan Universitas Sebelas Maret

Table of Contents

Pilpres di Indonesia adalah saat dimana uang triliunan beredar. Yang penting berani keluar banyak! Itulah kunci kalo mau jadi pejabat publik, bahkan banyak sumber yang bilang kalo mau mengusung calon presiden dibutuhkan dana 8 triliun! Hmmm 8T, kaya jumlah uang korupsi kasus BTS yaaa~

(Sumber: Niaga.Asia)

Kita flashback sedikit waktu Pilpres 5 tahun lalu, ada dua calon yaitu Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Mereka tuh nggak ragu buang uang dengan jumlah yang fantastis selama kampanye, kedua calon ini udah mengeluarkan hingga miliaran rupiah untuk bisa didukung publik. Apalagi pak Sandiaga Uno, abis banyak kayanya tuh.

(Sumber: Update Indonesia)

Uang, uang, uang. Ternyata nggak cuma didewakan tuan Krab, tapi kampanye politik juga menjadikan uang sebagai alat utama di era kampanye politik modern ini. Uang punya kemampuan untuk mencapai jangkauan luas, meningkatkan visibilitas, dan pembentuk citra positif. Ngerti nggak? Intinya uang adalah segalanya. Nah, tapi bagi Gen Z yang mungkin tidak memiliki akses sama ke sumber daya dana, bisa menjadi tantangan besar. Mereka pasti dihadapkan ketidaksetaraan akses terhadap saluran politik.

(Sumber: Kompasiana.com)


Dana yang dihabiskan dalam Pilpres menciptakan dampak terhadap persaingan demokratis. Kandidat dengan sumber daya finansial yang melimpah memiliki keuntungan besar, terbukti dalam 2 edisi pilpres 2019 dan 2024 pemenangnya adalah capres yang memiliki dana kampanye paling besar. Hal ini menciptakan risiko bahwa opini publik dapat terpolarisasi oleh pesan dan narasi yang didominasi oleh aspek finansial daripada substansi kebijakan. Keberlanjutan model ini dapat merusak keseimbangan dalam demokrasi yang seharusnya merakyat.


Komisi.co sebagai media politik untuk Gen Z udah pasti bahas anak muda. Pemilih muda, yang sering kali menjadi pendorong perubahan politik, dihadapkan pada kesulitan kritis. Pengeluaran dana besar menciptakan medan perang informasi yang rumit, di mana mereka harus memilah antara pesan kampanye dan substansi kebijakan. Kesulitan ini menyoroti pentingnya akses yang setara terhadap informasi untuk memastikan keputusan yang informatif dan sesuai dengan nilai-nilai pemilih muda. Anak muda memiliki potensi besar untuk mengatasi ketidaksetaraan dalam akses dana. Kampanye digital yang kreatif dan inovatif selama Pilpres 2024 adalah contoh nyata bagaimana anak muda dapat menggunakan platform media sosial dan kekuatan suara kolektif mereka untuk mengatasi keterbatasan finansial. Kolaborasi antar pemuda dapat menjadi kunci untuk membentuk suara yang lebih kuat dan berdaya.

Dalam menghadapi ketidaksetaraan ini, panggilan untuk reformasi dalam pembiayaan kampanye semakin mendesak. Pembatasan pengeluaran kampanye dan peningkatan transparansi dalam sumber dana dapat membantu menciptakan lingkungan politik yang lebih adil dan terbuka untuk semua kandidat. Anak muda memiliki peran penting dalam membangun kesadaran masyarakat tentang dampak pengeluaran dana dalam politik. Pendidikan politik yang kuat dan peningkatan kesadaran masyarakat dapat membantu menciptakan pemilih yang kritis, mampu menilai kualitas kandidat tanpa terpengaruh oleh dominasi finansial. Dalam menghadapi tantangan pengeluaran dana besar dalam Pilpres, anak muda memiliki peran krusial dalam membentuk narasi politik yang lebih inklusif dan adil. Dengan kreativitas, kolaborasi, dan kesadaran akan pentingnya partisipasi mereka, anak muda dapat membawa perubahan positif yang mengarah pada politik yang lebih merakyat dan demokratis.

(Sumber: Liputan6.com)

Meet The Politician

Ditulis Oleh :