fbpx
Search
Close this search box.

DPR BINGUNG ANGGARAN PENDIDIKAN TURUN?

Facebook
Twitter
LinkedIn
Telegram
WhatsApp
(INSTAGRAM : KOMISI.CO)

Table of Contents

PENDIDIKAN MAKIN TERABAI
Bahwa pendidikan adalah salah satu pilar utama dari majunya sebuah peradaban manusia, jika pendidikan tidak pernah mendapat apresiasi dan support maka sudah dipastikan kita akan mengalami keterlambatan bahkan, bisa masuk ke musnahnya peradaban itu sendiri.

Bisa kita lihat contoh pada suku aztec yang mendiami pedalaman hutan Amerika selatan, dimana mereka mengalami kemunduran hingga, berakhir kepunahan, karena mereka gagal dalam mengadaptasi adanya teknologi baru yang dibawa oleh orang-orang barat. Bisa kita lihat dari artefak-artefak mereka yang sebagian dicuri oleh orang eropa untuk dibawa ke eropa, dan mereka malah dikasih racun yang dibawa oleh orang-orang itu, berupa penyakit malaria.

Sama halnya dengan yang terjadi di sini, dimana dana pendidikan seharusnya menjadi point utama agar penerus bangsa kita bisa terus berkembang malah terjadi pemotongan anggaran. Tentu ini kabar buruk bagi pendidikan Indonesia, dari data yang ada bahwa anggaran Pendidikan pada tahun 2025 akan mengalami penurunan sebesar 16% dari anggaran tahun lalu, tentu publik bertanya-tanya.

Mengingat dari tahun ke tahun, selama pemerintahan Jokowi. Sektor pendidikan telah menjadi korban dari pemotongan anggaran, baik dipotong karena kebutuhan anggaran pembangunan infrastruktur, hingga masuk era pandemi covid 19, sektor ini terus dan terus menjadi korban pemotongan anggaran.

DPR PUN TERHERAN-HERAN
Hal ini pun membuat komisi sepuluh selaku komisi yang mengawasi anggaran untuk kepemudaan dan pendidikan, merasa terheran-heran dengan pemotongan anggaran di sektor ini. Dimana ketua komisi 10 Agustina Wilujeng telah menyoroti penurunan anggaran ini, terlebih penurunan ini bisa menghambat perbaikan kualitas pendidikan di Indonesia.

Walaupun secara angka anggaran pendidikan di Indonesia masih terhitung tinggi dari tahun lalu, tapi porsi untuk Kemendikbud Ristek sendiri masih terhitung kecil. Sebagian besar kebutuhan anggaran hanya terfokus untuk transferan ke daerah, padahal porsi daerah dan pusat sama-sama penting demi meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Ketua komisi sepuluh pun meminta tim Kemendikbud melakukan audit internal, untuk melihat seberapa efektifkah dana transferan ke daerah dan desa, mengingat jumlahnya sangat besar, dan paling utama dengan transferan ini apakah efektif! buat membangun sekolah di desa atau malah nggak, apalagi orang Kemendikbud nggak punya kenalan yang mau jadi pengawas anggaran di daerah.

Meet The Politician

Ditulis Oleh :