fbpx
Search
Close this search box.

VIRAL “ASIAN VALUE”, APAAN TUH?

Facebook
Twitter
LinkedIn
Telegram
WhatsApp
(INSTAGRAM : KOMISI.CO)

Table of Contents

ASIAN VALUE APA ITU?
Konsep tentang Asian Value lagi ramai dibicarakan publik berkat dari sebuah potongan ,video podcast “Total Politik” yang mengundang Stand Up comedian Pandji Pragiwaksono. Apa itu Asian Value? Dalam podcast itu, Pandji bertanya kepada dua host tersebut, Arie Putra dan Budi Adiputro, terkait topik dinasti politik.

Konsep Asian Value?
Keduanya orang itu sepakat bahwa dinasti politik itu sah, Ali menyebutkan bahwa dinasti politik bagian dari Asian Value. Sebelum masuk ke definisi, kita perlu tahu kapan konsep nilai-nilai Asia ini muncul. Konsep Asian Values pertama kali terdengar di tahun 1990-an.

Teori Asian Value.
Oleh Michael Barr, seorang ahli hubungan internasional dari Universitas Flinders, dia mengatakan bahwa negara-negara Barat sedang menikmati tingkat kepercayaan politik dan ekonomi yang tinggi. “Negara ini baru saja memenangkan Perang Dingin, Eropa bersatu, dan pasar tumbuh berlipat ganda, dan wilayah jauh menjadi lebih terbuka,” tulis Barr, menurut laporan SCMP.

Atas berakhirnya perang dingin, pihak AS dan Eropa merespon kemenangan dengan semangat membara, untuk bisa menyebarkan paham demokrasi dan ham ke seluruh penjuru dunia. Namun disisi lain, bangsa asia memandang barat secara berbeda, mereka lebih suka merayakan integrasi sosial dan kesuksesan secara ekonomi. Kawasan asia mayoritas lebih bangga dengan pencapaian pertumbuhan tanpa harus terbebani oleh sifat individualisme yang berlebihan.

Dalam tulisannya Barr bilang, kombinasi dari kepercayaan pihak Barat serta kecemasan asia mencapai puncak di tahun 1993. saat itu, serangkaian konferensi ham PBB bertepatan dengan ancaman AS untuk mencabut status negara yang disukai atau disebut dengan (MFN) karena negara itu memiliki catatan buruk dalam penanganan ham.

Barr menambahkan “klaim barat mengenai ham dipandang sebagai langkah munafik untuk menundukkan benua asia secara politik dan ekonomi, agar asia bisa jatuh ke tangan AS dan eropa,” dari situasi ini kita akan mengarah kepada diskusi lebih lanjut mengenai Asian Value berangkat dari teori ini pula, muncul 4 klaim mengenai Asian Value. 

  1. HAM tidak bersifat universal dan tidak dapat di globalisasi.
  2. Masyarakat Asia fokus pada keluarga dibandingkan individu.
  3. Masyarakat Asia lebih menghargai hak sosial dan ekonomi dibandingkan hak politik individu.
  4. hak negara untuk menentukan nasib sendiri, dengan mencakup tanggung jawab domestik pemerintah atas ham.

Mr Hung bilang orang Asia secara alami lebih memilih kepentingan keluarga dan negara mereka dibanding kepentingan pribadi mereka.Terkait poin keempat, artinya negara lain tidak boleh ikut campur dalam urusan dalam negerinya, termasuk kebijakan ham.

Berbagai negara di Asia, termasuk Indonesia, menganut Asian Value. sedikit throwback di tahun 1993, saat itu Menteri Luar Negeri kita dipimpin oleh sosok Ali Alatas dimana dia telah memperingatkan bahwa akan ada pendekatan individualistis terhadap pandangan tentang ham sehingga bisa menyebabkan ketidakstabilan politik dan kerusuhan di dalam negeri.

Ali Alatas menyerukan untuk saling memahami tradisi dan nilai-nilai sosial di masyarakat. “Contoh negara tetangga kita Singapura dan Malaysia mereka bisa membangun Asian Value berdasarkan keyakinan bahwa ham adalah bentuk terselubung dari “imperialisme budaya barat”. Mendiang PM Singapura Lee Kuan Yew dan mantan PM Malaysia Mahathir Mohamad telah berpendapat bahwa peningkatan hak-hak sipil dapat menghambat kemajuan ekonomi dan sosial negara mereka.

Disisi lain, ada banyak kepala negara yang tidak setuju dengan nilai-nilai Asia, seperti mantan pemimpin Taiwan Lee Teng-hui dan Mantan PM Aung San Suu Kyi dari Myanmar. Lee percaya nilai-nilai Asia yang diwakili oleh Lee Kuan Yew berakar dari sistem dinasti Tiongkok. Lee mengaku dirinya lebih percaya pada demokrasi dan kebebasan, bukan balik sistem politik yang dimana “seluruh keluarga bisa terlibat dalam politik.

Apakah nilai-nilai Asia relevan saat ini?
Pengamat politik mengatakan argumen ini telah berhasil dalam beberapa dekade terakhir. Namun, ketika pemerintah dihadapkan oleh sejumlah besar masyarakat terpelajar yang sudah terpapar oleh pemikiran global, efektivitasnya akan lambat laun terus menurun.

Meet The Politician

Ditulis Oleh :